Deteksi Dini Perilaku Depresi pada Siswa Sekolah Menengah

Authors

  • Sindi Putri Ayu Universitas Sriwijaya
  • Finkah Sabillah Universitas Sriwijaya
  • Nurhidayah Nurhidayah Universitas Sriwijaya
  • Bilqis Salsabila Universitas Sriwijaya
  • Risma Anita Puriani Universitas Sriwijaya
  • Rizki Novirson Universitas Sriwijaya

DOI:

https://doi.org/10.62383/wissen.v3i2.754

Keywords:

Adolescent Depression, Early Detection, Mental Health

Abstract

Depression in adolescents, especially high school students, is a serious mental health problem with significant impacts on psychological well-being, academic performance, and social life. Risk factors such as academic pressure, family conflict, negative mindset, and social media addiction contribute to the increasing prevalence of depression. Early detection in the school environment is a critical step to prevent adverse effects such as self-harm and suicidal ideation. Depression in adolescents is multifactorial and requires a holistic approach. Early detection through symptom screening, mental health education, and school-family-professional collaboration are essential preventive strategies. Recommendations include the integration of mental health modules into the school curriculum and teacher training for early risk identification.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Apriliyani, I., Dwidiyanti, M., & Sari, S. P. (2020). Pengaruh terapi mindfulness terhadap tingkat depresi pada remaja. Jurnal Keperawatan Jiwa, 8(1), 45–52.

Arsyam, S., & Murtiani. (2017). Pola asuh orang tua dengan tingkat depresi pada remaja. Jurnal Ilmu Kesehatan, 8(1), 45–53.

Beautyana, S. F., Desi, & Setiawan, H. (2019). Perbedaan gejala depresi pada remaja sekolah menengah pertama. Jurnal Psikologi Klinis, 15(2), 78–89.

Desi, Felita, A., & Kinasih, A. (2020). Gejala depresi pada remaja di sekolah menengah atas. Jurnal Kesehatan Mental Remaja, 5(1), 33–42.

Fah Riziana, K., Fatmawati, & Darmawan, A. (2023). Hubungan tingkat gejala depresi dengan ide bunuh diri pada remaja Sekolah Menengah Atas. Jurnal Psikiatri Indonesia, 18(1), 55–67.

Febryan Pramana, E., & Damaiyanti, M. (2020). Hubungan kehangatan orangtua dan pemantauan orangtua dengan depresi pada siswa sekolah menengah atas. Jurnal Psikologi Perkembangan, 12(2), 89–102.

Handayani, F., et al. (2021). Perbandingan efek aerobik dan yoga terhadap depresi remaja obesitas. Jurnal Kesehatan Jasmani, 9(3), 145–156.

Harista, & Lisiswanti. (2017). Depresi pada remaja: Diagnosis dan intervensi. Pustaka Pelajar.

Hartini, & Yulianti. (2021). Gambaran tingkat depresi remaja di Sekolah Menengah Kejuruan Tangerang Selatan. Jurnal Ilmu Kesehatan Jiwa, 12(3), 210–219.

Khodijah, S., & Arifin. (2020). Analisis faktor risiko depresi pada remaja perempuan urban. Jurnal Kesehatan Reproduksi Remaja, 6(1), 22–34.

Nevid, J. S., & Taylor, S. (2006). Essentials of abnormal psychology. Cengage Learning.

Pramana, E. F., & Damaiyanti, M. (2020). Hubungan kehangatan orangtua dan pemantauan orangtua dengan depresi pada siswa sekolah menengah atas dan kejuruan. Jurnal Psikologi Pendidikan, 7(2), 155–167.

Pramana, R. D. (2014). Hubungan antara kecerdasan emosi dan tingkat depresi dengan ide bunuh diri pada peserta didik kelas X SMK Farmasi Surabaya. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 3(1), 22–31.

Pratama, A., et al. (2022). Efektivitas terapi seni dalam menurunkan gejala depresi remaja. Jurnal Intervensi Psikologi, 14(1), 45–58.

Putra, A., & Wijayanti, R. (2021). Dampak pandemi COVID-19 terhadap peningkatan depresi remaja. Jurnal Psikologi Krisis, 7(2), 90–105.

Riva’i, D. Y., & Damaiyanti, M. (2020). Hubungan pikiran otomatis negatif dengan depresi pada siswa sekolah menengah atas dan kejuruan. Jurnal Psikologi Kognitif, 6(1), 50–61.

Riziana, K. F., Fatmawati, & Darmawan, A. (2023). Hubungan tingkat gejala depresi dengan ide bunuh diri pada remaja Sekolah Menengah Atas. Jurnal Kesehatan Jiwa Remaja, 9(2), 88–97.

Safitri, D., & Widyatama, R. (2023). Peran literasi digital terhadap depresi remaja pengguna aktif media sosial. Jurnal Media dan Kesehatan Mental, 11(1), 30–44.

Santrock, J. W. (2003). Adolescence (9th ed.). McGraw-Hill.

Saraswati, N., Kusumawati, M. W., & Sulisetyawati, S. D. (2024). Hubungan tingkat depresi dengan perilaku self-harm pada remaja. Jurnal Psikiatri Anak dan Remaja, 11(1), 45–56.

Suryani, U., & Yazia, V. (2024). Hubungan tingkat depresi dengan sosial media kecanduan pada remaja. Jurnal Psikologi Digital, 8(3), 112–125.

Syurkiati, A., & Murtiani. (2017). Pola asuh orang tua dengan tingkat depresi pada remaja. Jurnal Psikologi Keluarga, 4(2), 77–86.

Ulfah, M., & Jaya, I. (2019). Depresi pada remaja dengan orang tua bercerai: Studi fenomenologi. Jurnal Psikologi Kualitatif, 5(1), 15–28.

Ximenes, J., Naibili, M. J. E., & Sanan, Y. C. U. (2024). Potret kesehatan jiwa remaja SMA: Tantangan kecemasan dan depresi di era modern. Jurnal Kesehatan Mental Komunitas, 10(1), 34–47.

Downloads

Published

2025-05-08

How to Cite

Sindi Putri Ayu, Finkah Sabillah, Nurhidayah Nurhidayah, Bilqis Salsabila, Risma Anita Puriani, & Rizki Novirson. (2025). Deteksi Dini Perilaku Depresi pada Siswa Sekolah Menengah. WISSEN : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 3(2), 191–201. https://doi.org/10.62383/wissen.v3i2.754

Similar Articles

1 2 3 4 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.